Minggu, 13 Desember 2015

Studi Kepemimpinan

Studi Analisis terhadap perilaku Kepemimpinan

Pendahuluan
Dalam menjalankan roda kehidupan, manusia melakukan berbagai hal dalam menjalin hubungannya dengan orang lain. Manusia juga melakukan hubungan sosial antar samanya karena mereka merupakan makhluk sosial, yang hidup sebagai makhluk sosial. Manusia pun tidak bisa menjalankan kehidupannya tanpa berinteraksi dengan orang lain, karena mereka pasti membutuhkan pertolongan orang lain dalam menjalankan kehidupannya. Dalam berinteraksi, dikenal dengan namanya keterampilan interpersonal, yang merupakan komponen penting dalam berinteraksi dengan orang lain. Keterampilan interpersonal juga merupakan salah satu aspek penting yang digunakan manusia dalam dunia kerja maupun berorganisasi. Dalam menjalankan kehidupan yang semakin maju seperti sekarang ini, setiap individu manusia harus membutuhkan kecakapan-kecakapan yang dapat menunjang kehidupannya, baik dalam dunia karir maupun dalam kehidupan berorganisasi. Apabila ia tidak memenuhi hal tersebut, maka kompetisi dalam dunia kerja yang begitu dinamis akan terus menyingkirkan mereka yang tidak mempunyai keterampilan interpersonal skill dan dikuasai oleh mereka yang mempunyai keterampilan interpersonal skill yang lebih baik dan mapan. Oleh karena itu keterampilan interpersonal skill sangat penting untuk dimiliki oleh kita semua, apalagi yang mempunyai peran akademisi seperti kita yang sering turun dan berperan aktif dalam berorganisasi.
Bicara mengenai organisasi, organisasi apapun itu pasti mempunyai pemimpin yang memegang pernan tertinggi di dalam organisasi tersebut. Kepemimpinan merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki seseorang dalam mengembangkan karirnya, karena tanpa kepemimpinan, tidak ada kesuksesan yang dapat diraih.  Baik dalam berorganisasi atau dalam melakukan urusan  yang khusus dalam mengembangkan amanat yang mereka pegang. Akademisi maupun praktisi pun demikian, yang dimana kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting untuk menunjung karirnya. Setiap orang yang ada di dunia ini butuh dengan sifat kepemimpinan, yang di mana sifat kemimpinan tersebut harus dimiliki oleh seorang pemimpin sehingga dapat memimpin rakyat atau masyarakat yang memberikan amanat kepadanya. Dalam kehidupan bernegara, berbangsa maupun beragama, pemimpin harus hadir di setiap permasalahan yang ada dan harus bisa mengatur keberagaman yang ada di dalamnya, dan inilah yang harus menuntut para pemimpin untuk mengatur kehidupan dalam organisasi yang dipimpinnya. Setiap masalah yang ada, juga ditimbulkan dalam setiap dinamika kehiudapn dalam kelompok akan membuat pemimpin itu mencari cara dan strategi dalam menyelesaikan masalah yang ada.


Rumusan Masalah
1.      Apa itu Ketrampilan Interpersonal Skill?
2.      Apa Itu Kepemimpinan? Apa itu karakteristik Kepemimpinan?
3.      Apa korelasi Kepemimpinan dan Ketrampilan Interpersonal Skill?
4.      Analisis terhadap individu mengenai sifat kepemimpinan.
Tujuan Penulisan     
1.      Mengetahui pengertian Interpersonal Skill.
2.      Dapat memberikan pengertian Kepemimpinan dan Karakteristiknya.
3.      Dapat mengetahui korelasi antara kepemimpinan dan Interpersonal Skill.
4.      Dapat memberikan Analisa yang tepat terhadap individu mengenai Sifat Kepemimpinan.

Pembahasan
A.     Pengertian Interpersonal Skill
Hubungan Interpersonal Skill merupakan salah satu kecakapan yang harus dimiliki manusia dalam berinteraksi dengan orang lain. Interpersonal Skill juga sebuah skill atau kecakapan keterampilan yang di mana keterampilan tersebut menjadi penunjang kita dalam berorganisasi maupun berkelompok, bahkan dalam dunia kerja. Karena dalam berkomunikasi dan berinteraksi sesama manusia, kecakapan ini hadir sebagai salah satu hal yang sangat penting dalam melihat kecakapan individu ataupun seseorang yang ingin terjun di dunia kerja maupun dunia organisasi. Interpersonal skill juga kecakapan atau keterampilan yang dimiliki oleh seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, baik dalam berkomunikasi verbal maupun non verbal dengan tujuan untuk pengembangan kerja secara optimal. Keterampilan Interpersonal didefinisikan sebagai keterampilan untuk mengenali dan merespon secara layak perasaan, sikap dan perilaku, motivasi serta keinginan orang lain. Bagaimana diri kita membangun hubungan yang harmonis dan merespon manusia atau orang lain merupakan bagian dari keterampilan interpersonal.
Mengapa perlu keterampilan interpersonal? Dalam kehidupan keseharian kita, hampir tidak mungkin kita berinteraksi dengan sesama kawan kita, dan bahkan siapa saja yang berlalu lalang di sekitar kita. Ini merupakan hukum alam bahwa manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia harus hidup bersama dengan manusia lainnya. Dalam skema hidup bersama ini muncul kebutuhan untuk memahami kebutuhan manusia lain, maka timbullah komunikasi antara manusia, sehingga keberadaan interpersonal skill hadir sebagai salah satu aspek terpenting dalam menjalankan hubungan interaksi satu individu lainnya.


B.     Pengertian Kepemimpinan dan Karakteristiknya
Memimpin berarti mengepalai atau mengetuai, memegang, menuntun, membimbing, bisa juga melatih. Kepemimpinan dalam KBBI berarti perihal pemimpin atau cara kepemimpinan. Sedangkan pemimpin mempunyai arti orang yang memimpin. Jadi seorang pemimpin adalah seseorang yang mengepalai atau mengetuai suatu hal dalam suatu perkumpulan atau pun kelompok, baik itu keluarga, organisasi, institusi, dan lain sebagainya. Dalam bahasa Inggris, pemimpin  disebut dengan “Leader”. Sedangkan kegiatannya disebut dengan kepemimpinan atau “Leadership”. Dalam Islam sendiri, makna kepemimpinan diartikan sebagai khalifah yang pada makna dasarnya pengganti atau wakil. Oleh karena itu, perkataan tersebut cendrung berkonotasi sebagai pemimpin formal. Konotasi tersebut terlihat pada bidang-bidang yang dijelajahi di dalam tugas pokoknya, yang menyentuh tidak saja aspek-aspek kehidupan beragama saja, melainkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik itu dalam memimpin politik atau duduk di pemerintahan, serta berorganisasi di wilayah-wilayah akademisi seperti sekolah dan universitas.  
Menurut Professor Veitthzal Rivai dalam bukunya “Islamic Leadership”, bahwa pemimpin adalah berfungsi untuk memastikan seluruh tugas dan kewajiban dilaksanakan dalam suatu organisasi. Seseorang yang  yang secara resmi diangkat menjadi suatu kepala suatu group atau kelompok bisa saja ia berfungsi atau mungkin tidak berfungsi sebagai pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang unik dan tidak diwariskan secara otomatis, akan tetapi untuk menjadi seorang pemimpin haruslah memilki karateristik tertentu yang timbul pada situasi-siatuasi yang berbeda. Jika kita menjadi pemimpin, kita harus mempunyai keterampilan khusus dalam menjalankan berbagai rutinitas yang ada di kelompok yang kita bina dan di dalam organisasi kita aktif di dalamnya. Menjadi pemimpin itu tidaklah mudah, karena menjadi seroang yang memberikan contoh lebih sulit daripada hanya menjadi seorang yang hanya memerintah dan hanya memberikan penugasan saja. Menurut H. Hadari Nawawi, bahwa ada beberapa konsep yang timbul dalam membuat karakteristik khusus dalam kepemimpinan, baik itu dalam pergaulan dan sosialisasi kepada masyarakat. antara lain; yaitu,
a). Mencintai kebenaran dan hanya takut kepada Allah SWT.
Seseorang pemimpin yang mencintai kebenaran, akan menjadi pemimpin yang kepribadiannya untuk mencintai keadilan. Dalam kepribadian seseorang pemimpin yang seperti itu, maka akan menghasilkan pemimpin yang jujur. Dalam Islam, pemimpin harus taat kepada kebenaran dan hanya takut kepada Allah SWT. Apabila 2 hal ini dilakukannya, maka tidak seharusnya ia takut kepada manusia, selagi ia masih benar dan mempunyai jalan yang sesuai dengan ajaran yang diperintahkan oleh Allah SWT.
b). Dapat dipercaya, bersedia dan mampu mempercayai orang lain.
Kepercayaan itu sangatlah penting. Jika pemimpin selalu berusaha untuk mempercayai orang lain, maka secara tidak langsung dia akan dipercayai orang disekitarnya. Setelah timbulnya kepercayaan tersebut, maka anggota kelompok ataupun organisasi memberikan kesempatan kepada pemimpin untuk menghayati perasaaan, pemikiran, aspirasi dan keluhan-keluhan yang berkembang di anggota kelompoknya. Jadi tidak hanya sebatas memerintah saja, melainkan harus mempercayai segala apa yang dikerjakan oleh anggota kelompoknya.
c). Memiliki kemampuan dalam bidangnya dan berpandangan luas yang didasari kecerdasan (intelegensi) yang memadai.
Kemampuan intelegensi itu juga penting. Seorang pemimpin tidak hanya memiliki kemampuan kepemimpinan, di samping itu pemimpin harus mengetahui juga seluk beluk bidang yang dikelola organisasi dan kelompok yang ia geluti di dalamnya. Maka dibutuhkan yang namanya kecerdasan atau intelegensi dalam mengetahui atau menguasai semua permasalahan yang ada di kelompok yang ia pimpin.
d). Pandai bergaul, ramah tamah, suka menolong dan memberi petunjuk serta terbuka untuk orang lain dan aktif di lingkungan sekitar.
Sifat kepemimpinan yang dimiliki oleh sang pemimpin harus  memiliki kepribadian yang senang bergaul, ramah tamah dan suka menolong, karena pemimpin tidak mungkin mengelola sebuah organisasi tanpa adanya sikap ramah tamah dan pandai bergaul. Kalau pemimpin hanya mempunyai sifat dan temperamen yang keras, serta jarang untuk bergaul, maka rasa kepercayaan anggota kelompooknya bisa jadi akan berkurang terhadapnya.
e). Memiliki semangat untuk maju, semangat pengabdian dan kesetiakawanan, serta kreatif dan penuh inisiatif.
Seorang pemimpin harus menjadi salah satu seorang yang mempunyai banyak ide dalam mengembangkan suatu ide yang ada di dalam idenya. Pemimpin tidak harus kehilangan ide, melainkan jiwa inovatif yang dimiliki pemimpin harus ada dan pada akhirnya akan membuat ide-ide cadangan dalam melanjutkan misi dan strategi selanjutnya. Ide-ide cadangan yang dimiliki seorang pemimpin merupakan salah satu strategi kedua setelah suatu organisasi kehabisan ide atau cara dalam menyelesaikan suatu masalah.
f). Bertanggung jawab dalam mengambil keputusan dan konsekuen berdisiplin serta bijaksana dalam melaksanakannya.
Karena pemimpin merupakan sang promotor atau penggerak dalam suatu organisasi, maka pemimpin butuh keberanian dan dengan segala tanggung jawab yang ada, pemimpin harus konsekuen dalam memberikan keputusan. Menjadi seorang yang penuh tanggung jawab tidaklah mudah, melainkan sesuatu yang rumit. Maka dari itu, pemimpin harus belajar sedikit demi sedikit mengenai arti sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab dapat memberikan kesan yang baik bagi pemimpin tersebut, karena tanggung jawab merupakan salah satu aspek terpenting dalam menimbulkan kepercayaan kepada pemimpin.
g). Aktif dalam memelihara kesehatan jasmani dan rohani.
Kesehatan jasmani dan rohani sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap usaha mewujudkan kepemimpinan yang efektif. Maka kesehatan jasmani dan rohani sangat mutlak diperlukan bagi seorang pemimpin. Mana mungkin bisa memimpin dalam keadaan yang sakit, sedangkan dibutuhkan tenaga yang lebih dalam memimpin suatu organisasi. Ada sebuah pepaatah arab ang mengatakan bahwasanya “Akal yang sehat terdapat pada raga yang kuat”. Peribahasa ini mengandung makna bahwa menjadi seorang yang sehat jasmani dan rohani menjadi syarat terpenting dalam melahirkan ide-ide yang kuat pula. Ide-ide yang cerdas dan baik akan lahir dari pribadi yang sehat, tanpa penderitan rasa sakit, dan aktif dalam bekerja maupun berpikir secara intelektual, hingga legitimasi anggota kepada pemimpin akan bertambah seiring ide dan pemikiran pemimpin yang penuh inovatif.
C.     Korelasi Kepemimpinan dan Interpersonal Skill
Menjadi pemimpin merupakan hal yang sangat luar biasa, karena didalamnya kita belajar untuk bagaimana menilai dan juga mengorganisir suatu organisasi yang kita miliki. Menjadi pemimpin pun memang hal yang luar biasa, disamping ada beberapa tantangan yang harus dihadapi ketika menjadi seorang pemimpin. Kemampuan untuk menjadi pemimpin tidak hanya sebatas menyuruh dan memberikan penugasan begitu saja, melainkan komunikasi antara pemimpin dan anggotanya juga sangat mendukung perwujudan suksesnya sebuah tujuan kelompok dan organisasi. Maka sangat bisa dikatakan bahwa kepemimpinan sangat erat hubungannya dengan komunikasi interpersonal. Pemimpin yang baik dan mampu bertanggung jawab merupakan salah satu usahanya untuk meningkatkan kepercayaan anggota kepada pemimpin, dan usaha dalam meningkatkan kemampuan interpersonal skill sangatlah membantu pemimpin dalam mewujudkannya, hingga terciptalah hubungan yang baik antara pemimpin dan anggotanya.
Apa saja korelasi antara kepemimpinan dan hubungan interpersonal skill? Apakah hal tersebut menjadi salah satu faktor kesuksesan pemimpin dalam menciptakan hasil yang baik di organisasi dan kelompok? Jika kita menitik kembali apa yang ada dimaksud dengan interpersonal skill dan proses kepemimpinan, maka korelasi antara keduanya sangatlah erat, karena dalam hal kelompok, komunikasi dua arah yang disampaikan terjadi antara satu individu ke individu yang lain, hingga melibatkan kedua invidu tersebut dalam komunikasi yang aktif. Bahkan dalam hal komunikasi, komunikasi yang assertif akan diwujudkan oleh dua individu yang bersama-sama berkomunikasi yang baik. Pemimpin pun demikian, apabila ingin menciptakan komunikasi yang baik antara pemimpin dan anggota dalam kelompok, maka pemimpin harus menciptakan komunikasi yang assertif pula, dengan menciptakan komunikasi yang baik antara pemimpin dan anggotanya kelompok maupun organisasinya.
Interpersonal dan kepemimpinan juga menjadikan individu sebagai subjek dalam hubungan sosial dan kemasyarakatan. Kepemimpinan yang dimiliki seorang pemimpin harus sesuai dengan  kepribadian dan tujuan anggota kelompoknya. Maka dari itu, pemimpin harus mengerti semua watak dan sifat-sifat anggotanya. Mengenai watak dan temperamen yang dimiliki oleh seorang pemimpin, maka sebagai pemimpin yang sering mengawal anggota-anggota kelompoknya, maka pemimpin harus bisa menjadikan watak yang ia pelajari terhadap sebelumnya harus disesuaikan dengan penugasan-penugasan yang kemudian ia berikan kepada anggota-anggotanya. Jika memiliki keterampilan interpersonal yang tinggi, maka dapat menumbuhkan rasa percaya diri, mendapatkan penghargaan dan, membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain, sehingga jika pemimpin sampai pada tingkat ini, maka legitimasi dan kepercayaan anggota kelompok atau organisasi akan semakin bertambah dan meningkat kepada pemimpinnya.
D.     Analisis terhadap individu mengenai sifat kepemimpinan.
            Dalam hal ini, pemakalah akan melakukan sebuah analisa terhadap individu mengenai sifat kepemimpinan. Kepemimpinan yang dimilki seseorang bisa dinilai dari mana ia bisa melakukan berbagai
hal yang membuatnya bisa memimpin suatu kelompok atau organisasi. Pemakalah melakukan wawancara dan mengajukan beberapa soal dan jawaban yang kemudian jawaban tersebut diberikan dari individu yang dijadikan sebagai sasaran dalam analisa kepemimpinan. Berikut adalah Kuisioner dan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada subjek yang diteliti.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut ditujukan kepada subjek yang ingin diteliti dan akan dijawab dengan jawaban yang sejujurnya, hingga pertanyaan yang dijawab akan mencerminkan kepemimpinannya terhadap organisasi yang ia pimpin. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan pada salah satu teori dalam interpersonal skill, yaitu bagaimana kita menjadi salah satu individu belajar mendengarkan orang lain dalam mengamalkan sebuah interaksi antar sesama, atau disebut juga hubungan interpersonal skill. Hubungan yang sama antara interpersonal skill dan kepemimpinan dapat dijelaskan di bab selanjutnya, yaitu berisi jawaban sang individu, dan juga akan disangkut pautkan dengan kepribadian. Setelah memberikan pertanyaan kepada individu tersebut, maka pemakalah sebagai observer akan mengolah memberikan jawaban yang telah diberikan.
S: Siapa nama lengkap Anda?
J: Nama lengkap saya adalah Muhammad Ulul Al-Bab, Saya berasal dari Surabaya dan Mahasiswa semester 3 Hubungan Internasional di Kampus Siman Universitas Darussalam Gontor.
S: Bentuk organisasi macam apakah yang anda pimpin?
J: Organisasi yang saya pimpin adalah Gerakan Pramuka, yang dimana gerakan Pramuka atau kepanduan tersebut di Universitas Darussalam dinaungi oleh gerakan Pramuka Al-Farobi. Berlokasi di SDN 2 Suran, Mlarak, Ponorogo. Di dalamnya ada anak-anak Sekolah Dasar yang harus diajar Kepanduan, dan di sisi lain, organisasi Kepanduan yang saya pimpin dan kawan-kawan saya sebagai pengurus.  
S: Apa yang menjadi motivasi anda dalam memimpin suatu organisasi?
J: Yang menjadi salah satu motivasi saat memimpin adalah saya dapat belajar cara memimpin suatu organisasi, kemudian mendapatkan pengalaman baru dan belajar untuk menjadi pemimpin. Ketika menjadi seorang pemimpin di organisasi tersebut, saya belajar untuk bagaimana dengan kepemimpinan itu sendiri, tidak hanya memimpin, melainkan dipimpin juga. Saya juga mendapatkan pengalaman berharga dan mengambil pelajaran yang sangat berguna bagi hidup saya kelak. Yang paling penting adalah saya selalu mendapatkan pengalaman baru yang belum saya dapat sebelumnya.
S: Berapa hari yang anda habiskan dalam seminggu ketika memimpin gerakan Pramuka?
J: Waktu yang saya habiskan dalam seminggu 3 kali pertemuan dengan para anggota didik. Dari 3 hari itu ada waktu yang saya harus hadir diantaranya 2 hari untuk melatih sehari lagi untuk aktif di organisasi. 2 hari ini saya sempatkan untuk langsung terjun ke dunia anak-anak dan mengajar pramuka. Beda lagi di sehari yang tadi, saya memimpin organisasi pramuka dengan teman sendiri.
S: Apa saja yang menjadi kendala bagi diri anda ketika menjadi pemimpin di organisasi tersebut?
J: Dalam memimpin suatu organisasi, pastinya kita menemukan kendala dan masalah yang akan dihadapi. Masalah tersebut pasti datang silih berganti. Dalam memimpin organisasi ini, terkadang saya juga mendapatkan masalah yang di mana masalah tersebut menjadi cobaan tersendiri bagi saya. Jika organisasi yang saya pimpin anak-anak kecil dalam mengajar, itu memang mudah, dikarenakan anak kecil sangat mudah untuk dilatih dalam hal kepanduan, tinggal bagaimana kita memasuki dunia mereka dan mengajak mereka untuk sering bermain dan belajar. Akan tetapi, kendala yang biasa saya temukan itu ketika memimpin organisasinya kepengurusan pramukanya, yang dimana organisasi ini diorganisir oleh kawan sendiri. Kawan saya juga biasanya sulit untuk menerima beberapa argumen yang kadang aku lontarkan sepihak, akan tetapi disitu saya belajar untuk mendengarkan dan memahami orang lain. Di sinilah menjadi cobaan tersendiri bagi saya untuk belajar menjadi pemimpin yang paham akan sifat dan karakter teman sendiri.  
S: Mengapa anda memilih untuk memimpin gerakan Pramuka ini? Apakah ada paksaan, atau hanya ikut-ikutan dan gengsi, atau memang keinginan diri sendiri?
J: Saya memilih organisasi kepramukaan ini karena saya mempunyai latar belakang dalam hal kepanduan. Dulu saya sangat hobi dalam latihan kepanduan, belajar tentang hal-hal yang berkenaan dengan alam. Karena inilah, saya merasa untuk mengamalkan ilmu saya kepada orang lain. Karena ilmu yang bermanfaat itu bagaimana kita mengajarkan  dan mengamalkannya kepada orang lain.
Dalam hal paksaan, memang pada awalnya pasti ada paksaan. Akan tetapi paksaan itulah yang menjadi batu loncatan bagi kita untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, kalau tidak dipaksa, mana mungkin kita mau untuk mengurusnya. Dari paksaan tersebut kita belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan seluruh tuga yang diberikan kepada kita. Berawal dari paksaan kita akan terbiasa. Kalau kita sudah terbiasa, maka tidak ada yang namanya paksaan lagi. 


S: Berapa macam inovasi yang dapat anda ciptakan ketika memimpin suatu organisasi?
J: Setiap urusan dan kegiatan yang saya emban, pasti saya selalu memasang target dan tujuan yang harus saya capai. Tujuan dan target yang sudah saya rencanakan sebelumnya, juga akan membuahkan inovasi-inovasi yang akan menemani jalannya tujuan yang akan dicapai. Dan apabila inovasi yang telah saya rencanakan atau ide yang saya buat sudah diambil oleh orang lain, maka tidak apa-apa. Pada kondisi itu, why not? Kenapa tidak? Pada waktu itu bagaimana saya berkolaborasi dengan teman saya untuk menciptakan hal tersebut lebih indah.  
S: Ketika anda mengorganisir suatu kegiatan atau acara, pasti ada beberapa keluhan yang datang dari anak didik, bagaimana anda menyikapinya?
J: Kita tahu bersama, kalau psikologi anak-anak kecil itu beda dengan orang dewasa pada umumnya. Anak kecil mudah menangis, bahkan jika kita menganggap mereka main-main, mereka menganggap kita serius. Kadang kita serius, malah mereka yang main-main. Ini sudah hal yang wajar jika kita memang terjun di dunia anak-anak. Terkadang anak-anak yang kita bimbing mengecewakan kita dengan beberapa keusilan yang mereka kerjakan. Justru itu, saya sendiri harus selalu semangat dalam hal ini, karena dalam mengurus anak-anak yang berbeda pandangan dengan diri kita, maka kita akan belajar mengenai psikologi anak itu sendiri. Maksud saya di sini, kita biarkan mereka bebas dan terikat. Maksudnya apa, kita biarkan mereka lakukan apa yang mereka mau lakukan, akan tetapi mereka tetap terikat dengan kita.    
S: Apakah anda orang yang bertanggung jawab? Kalau iya, bisa sebutkan salah satu bentuk tanggung jawab anda selama anda memimpin?
J: Contohnya saya pernah sukses memimpin lomba yang diadakan untuk sekolah dasar mengenai kepanduan. Lomba yang saya pegang membuahkan hasil dan itu sukses. Kalau saya mengemban suatu tugas untuk mengurus suatu lomba, maka saya akan all out di lomba tersebut, karena itu merupakan lomba yang sudah menjadi tanggung jawab saya. Akan tetapi, halangan dan rintangan juga pernah saya temukan dalam memimpin suatu kegiatan yang menjadi tanggung jawab saya. Tapi juga terkadang itu gagal dan itu tidak membuahkan hasil, dan juga manusia memaang khilaf. Disamping itu saya terus bangkit dan memberikan motivasi lagi kepada anak-anak, bagaimana agar diberikan hasil yang terbaik.
S: Apa strategi anda dalam menjalankan setiap kegiatan yang bisa membat anak didik anda selalu semangat dan tanpa adanya rasanya mengeluh?
J: Setiap pemimpin pasti mempunyai cara tersendiri dan gaya yang khas dalam memimpin. Saya pribadi lebih senang itu kalau benar-benar terjun ke dunia anak-anak secara langsung. Kadang juga dibutuhkan yang namanya kebersamaan dalam memimpin, karena seorang pemimpin harus dekat dengan dengan murid didiknya. Disamping itu, saya juga pernah agak tegas dalam memimpin, karena kewalahan tersendiri melihat sikap dan karakter anak-anak yang susah untuk diajak bermain. Maka bisa saya pastikan, saya terkadang agak keras dan sangat tegas dengan sikap anak-anak yang seperti itu. Akan tetapi itu tidak menghambat saya untuk tetap semangat dalam mendidik anak-anak secara terus menerus. Sifat kebersamaan yang selalu saya ajarkan kepada anak-anak didik berusaha membuat mereka merasa senang dengan apa yang diberikan pengajar kepada muridnya. Gaya kepemimpinan saya sendiri bisa dikatakan ada dua hal, yaitu terbuka dan sering bekerja sama, serta otoriter, yang sukanya memerintah dan memberikan penugasan yang terkadang mmbuat saya stress dan juga eribg mengalami konflik, baik itu konflik lahir, seperti konflik bersama kawan yang lain, serta konflik batin, yaitu bagaimana menangani rasa stress itu sendiri.

Berikut telah dituliskan hasil wawancara bersama salah satu pemimpin, meskipun ia juga teman saya, yang juga menceritakan pengalaman memimpinnya kepada saya pribadi. Kepemimpinan yang selama ini ia pegang merupakan salah satu kesuksesan tersendiri baginya, disamping adanya cobaan bagi dirinya. Kepemimpinan yang ia emban tentu beda dengan apa yang dijalankan oleh pemimpin yang lebih mencakup besar lagi, seperti mengemban amanat yang dijalankan terhadap umat, contoh Presiden, Wakil Presiden, menteri, kepala Desa, Alim ‘Ulama dan lain-lain. Akan tetapi, setiap kepemimpinan yang dijalankan seseorang pasti tentnya memiliki gaya tersendiri, karena gaya kepemimpinan seseorang itu mencakup bagaimana ia bertindak dalam organisasi, maka cara termudah untuk mengetahui berbagai jenis gaya ialah dengan menggambarkan jenis organisasi atau situasi yang dihasilkan oleh atau yang cocok bagi satu gaya tertentu.
Dalam buku “Islamic Leadership” karya Professor Veitzhall Rivai, bahwa ada lima macam kepemimpinan menurut cara kerja pemimpinnya dalam orgnisasi.
a). Birokratis. Gaya kepemimpinan ini ditandai dengan keterikatan yang terus menerus kepada aturan-aturan organisasi. Gaya ini mengaggap bahwa kesulitan-kesulotan akan dapat diatasi apabila setiap orang mematuhi aturan-aturan. Keputusan-keputusan yang ada dibuat berdasarkan prosedur-prosedur baku yang telah ditetapkan oleh organisasi.  
b). Permisif. Di sini keinginannya adalah membuat setiap orang dalam kelompok tersebut puas. Membuat orang-orang untuk selalu semangat terhadap aturan main yang sudah ada. Dalam hal ini koordinasi antara satu individu kepada individu yang lain terkadang menjadi satu hal yang dikorbankan, sehingga apabila orang lain telah merasa senang dengan aturan main yang telah ada maka dari itu, fungsi organisasi tersebut akan jalan sebagaimana mestinya.
c). Laissez-faire. Dalam hal ini, pemimpin hanya berjalan untuk menjalankan fungsinya sebagai pemeliharaan saja. Misalnya, seorang ‘Ulama mungkin hanya namanya saja ketua dari organisasi tersebut dan hanya mengurusi masalah khutbah saja, sementara yang lainnya mengerjakan segala hal mengenai bagaimana organisasi tersebut harus berjalan dan beroperasi bagaimana mestinya. Gaya ini kadang dipakai olah pemimpin yang sering bepergian atau hanya bertuga sementara.
d). Partisipatif. Gaya ini lebih condong untuk melibatkan beberapa orang dan saling memotivasi dalam melibatkan orang tersebut dalam pengambilan sebuah keputusan. Keputusan yang dikeluarkan oleh pemimpin tersebut membuat partisipasi yang solid antara anggota dan para pemimpin dalam menjalankan segala aktifitas yang organisasi. Hal ini diharapkan akan menimbulkan rasa memilki sasaran dan tujuan bersama.
e). Otokratis.  Gaya ini ditandai dengan adanya sikap ketergantunagn kepada yang berwenang dan biasanya menganggap bahwa orang-orang tidak akan melakukan apa-apa selain apa yang telah diperintahkan. Gaya ini mendorong adanya pembaruan. Pemimpin mengaggap dirinya sangat diperlukan dan keputusan dapat dibuat dengan cepat.
Gaya kepemimpinan yang telah disebutkan diatas tadi merupakan salah contoh bahwa ketika menjadi pemimpin, ada 5 hal yang menjadi gaya kepemimpinan tersebut diimplementasikan dan dipraktekkan kepada para anggota kelompok maupun organisasi. Jika kita melihat dengan apa yang terjadi dengan kepemimpinan teman saya dalam hal kepanduan, maka dapat dilihat dari segi kepemimpinan yang partisipatif, yaitu dalam menjalan kepanduan, sangat pemimpin lebih mengajak partisipasi yang lebih kepada para anggota organisasi, sehingga yang dikeluarkan pemimpin tersebut berupa keputusan dapat dilaksanakan atas hasil musyawarah bersama dan juga hasil keikutsertaan anggota dalam menjalankan organisasi tersebut. Memang, dalam menjalankannya tidaklah mudah, dikarenakan anggota kelompok terdiri dari anak-anak yang masih dibawah umur dari kita. Akan tetapi, partisipasi dari pengurus yang lain merupakan hal yang juga sangat penting, hingga partisipasi antara pemimpin, pengurus organisasi dan anggota kelompok menghasilkan suatu kolaborasi yang sangat besar dalam mewujudkan tujuan kelompok tersebut, hingga gaya kepemimpinnya dapat lebuh codnong ke gaya kepemimpinan yang assertif.      
            Selain itu, bisa juga teman saya tersebut lebih condong untuk melaksanakan gaya yang otokratis dalam memimpin, seperti halnya ia lebih sering memerintah dan apa yang diperintahkan kepada anggota kelompok maupun organisasi harus terlaksanakan. Inilah yang menjadi ketergantungan pemimpin terhadap sikapnya yang juga mempengaruhi cara pemimpin tersbeut memimpin suatu kelompok maupun organisasi.  
            Kemudian, di titik lain, pemakalah mengambil kesimpulan mengenai kepribadian pemimpin  yang dijadikan sebagai objek dalam observasi tersebut. Kepemimpinan yang dijalankan oleh Ulul Al-Bab mengenai latihan kepanduan bisa dilihat dari sifat si pemimpin dalam memimpin organisasi tersebut. Dalam kepribadian, kita mengetahui bahwasanya ada 4 tipe kepribadian yang dimiliki manusia, antara lain koleris, sanguinis, melankolis dan plegmatis. Sifat dan kepribadian ini mencerminkan bagaimana kepribadian dari seseorang, apalagi untuk seorang pemimpin.
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari individu tersebut dapat dikatakan bahwa ia mempunyai ciri kepribadian yang sanguinis, melihat bahwa ia sangat aktif dalam memberikan inspirasi dan berantusias tinggi, suka bergaul dan mengutamakan kebersamaan dalam segala hal, senang membantu, dan inspirasional. Selain itu, sifatnya yang suka memberikan motivasi dan juga aktif serta bertanggung jawab dalam setiap penugasan yang ada lebih menunjukkan ke sifat sanguinis. Kepribadian yang menjadi ciri utama dalam memimpin merupakan hal yang sangat penting dalam menjalankan amanah yang ia emban dalam kepemimpinannya. Pemimpin sepertinya merupakan contoh, dan juga harus langsung terjun ke lapangan, serta melihat langsung apa yang ada di lapangan, tentunya dengan sifat sanguinis yang ia emban untuk dalam mewujudkan dalam hal-hal yang berkenaan dengan sifat sanguinis tersebut.
Sifat yang ada di dalam individu tersebut sungguh bisa dalam menjalankan kepemimpinannya, tergantung bagaimana ia melakukan dan melaksanakan amanah yang ia jalankan, dan tentunya terpengaruh oleh kepribadiannya. Kepribadian sang individu tersebut (Ulul Al-Bab), selain sanguinis, juga sedikit condong kepada arah yang koleris, yang sedikit demi sedikit mengarah kepada arah yang otoristik. Pemberian penugasan kepada anggota kelompok maupun organisasi kadang memancing emosi dari si pengajar bersifat tegas dan memberikan sebuah penugasan setiap pekerjaan yang ia kerjakan membawa ke arah yang di mana ia tidak dapat mengendalikan dirinya, hingga dapat disimpulkan bahwa ia termasuk pribadi yang sanguinis, dan tidak lepas dari sifatnya yang koleris. Sifat yang agak berujung ke koleris inilah yang harus dibenahi demi kelancaran sebuah komunikasi yang baik dan assertif.               
Penutup
            Setelah penjelasan mengenai kepemimpinan, komunikasi interpersonal dan kepribadian diatas tadi, kita mengetahui bahwa dalam kehidupan ini manusia dituntut melakukan hubungan yang baik dalam perwujudan komunikai yang baik dan assertif kepada sesamanya. Manusia merupakan makhluk sosial, yang tidak dapat hidup sendiri di dunia ini. Manusia tidak dapat hidup dengan sendirinya, karena membutuhkan pertolongan orang lain dalam menjalankan segala aktifitas dan rutinitasnya. Aktifitas dan rutinitas tersebut dalam kehidupan manusia juga bermacam-macam, ada yang berbentuk komunitas maupun kelompok-kelompok yang diusahakan terciptanya komunikasi yang efektif dan assertif. Ini diwujudkan dalam bentuk kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan juga mempunyai karakteristik yang khas dan gayanya tersendiri, tergantung bagaimana pemimpin tersebut menjadi pengemban dalam menjalankan kepemimpinan tersebut.
           
Ada lima gaya kepemimpinan yang dijelaskan tadi, sesuai dengan buku “Islamic Leadership” karya Prof. Veitzhall Rivai. Gaya kepemimpinan tersebut yaitu Birokratis, Permisif, Laissez-faire, Partisipatif, dan Otokratis. Sedangkan gaya kepemimpinan yang cocok dengan individu yang telah dijadikan objek diatas dalam hal pendidikan kepanduan, ia sangat cocok dengan kategori kepemimpinan yang partisipatif, tapi agak condong juga ke arah yang otokratis. Dalam kepribadiannya sendiri, kita bisa menilai bahwa ia dapat kita nilai dengan sifat yang lebih condong ke arah sangunis, meskipun juga sedikit lebih mengarah kepada sifat yang cenderung koleris. Sifat yang sanguinis membuat ia melakukan hal yang penuh inspirasi dan tanpa adanya kebobolan ide. Setiap ide dan inovasi yang ia lakukan non-stop dan partispasinya kepada anggota kelompok maupun organisasi dapat dikatakan baik. Akan tetapi, berbarengan dengan itu pula, sifat yang condong ke arah koleris, juga mempengaruhi sifatnya yang juga sangat signifikan dan sewaktu-waktu dapat membuat emosinya memuncak dan bertindak layaknya pemimpin yang otoriter. Sifat yang cenderung otoriter tersebut juga acapkali membuatnya agak sedikit tegas dan meluapkan emosi dengan kemarahan. Di sisi lain, sifat yang otokratis dan partisipatif ini sebenarnya tidak sebanding. Pemakalah dapat mengambil kesimpulan bahwa sifat sanguinis yang dimiliki oleh individu tersebut sampai pada 80%, dan sifat yang cenderung koleris hanya 20%. Ini membuktikan bahwa kepemimpinannya lebih dominan ke arah saunginis, dan hanya sedikit yang mengarah ke koleris.
Dari kesimpulan ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam mendidik atau memimpin sesuatu harus sesuai dengan karakter kita sebaagai pemimpin, maaukah kita menyesuaikan diri dan membuat diri kita senyaman mungkin? Bisakah kita bertangggung jawab dan mengemban amanah yang tekah ummah atau masyarakat berikan kepada kita?, itu semua tugas dan kewajiban kita masing-masing. Semoga Allah SWT selalu menaungi kita dan para pemimpin yang memimpin negeri ini, Amin.          


Referensi
Kepemimpinan Menurut Islam”, Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Gadjah Mada University Press, 2001, Yogyakarta.
Bekal Untuk  Pemimpin, Pengalaman Memimpin Gontor”, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi,  Penerbit Trimurti Press, Cetakan Pertama, November 2011, Ponorogo.
Leadership, Memperkaya Pelajaran dari Pengalaman, Richard L Hughes, Robert C Ginnet, Gordon J. Curphy, Salemba Humanika, 2012, Jakarta.
Islamic Leadership, membangun SuperLeadership melalui Kecerdasan Spiritual, Prof. Dr. H, Veitzhal Rivai, M.B.A dan Ir. H Arfiyan Arifin, Penerbit Bumi Aksara, 2009, Jakarta.

Kamis, 24 September 2015

Studi Islam dalam Hubungan Internasional

Studi Islam dalam Hubungan Internasional
            Ilmu hubungan internasional salah satu ilmu yang baru dalam konteks ilmu sosial dan ilmu politik. Ilmu hubungan internasional yang selama ini menjadi salah satu jurusan atau program studi favorit di berbagai universitas yang ada di Indonesia bahkan dunia sekalipun, telah menjadikannya sebagai studi yang sangat baru dan sangat diminati dalam dunia akademisi ilmu sosial dan ilmu politik. Meski beberapa pendapat mengatakan bahwa studi hubungan internasional hanya belajar politik antar bangsa, akan tetapi ilmu ini juga mempelajari hal yang lain seperti ekonomi, sejarah, politik, geografi, filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi, budaya dan berbagai macam cabang ilmu humaniora lainnya.
            Selanjutnya, apakah ada hubungan internasional dengan studi islam yang selama ini menjadi kekuatan baru dalam segala bidang akademik?, Bagaimanakah studi Islam dalam konsep hubungan internasional?, bagaimana ciri-cirinya?, dan apakah ada konsep atau teori sendiri dalam hubungan hubungan internasional mengenai studi islam ini?.
            Esensinya, Studi Islam dalam hubungan islam sudah dibahas, dan bahkan sudah dipraktekkan sejak zaman Rasulullah SAW. Kepawaian Rasululah SAW dalam mengemban amanat sebagai Rasul dan Nabi penutup bagi nabi-nabi sebelumnya juga membuktikan bahwa dakwah beliau sangat bagus dan sangat mengandung nilai politis yang tinggi. Ini dibuktikan dengan kemampuan beliau dalam mengumpulkan dan “menjinakkan” para petinggi quraisy yang dibungkus dalam perjanjian Hudaibiyyah.  Selain itu, Medina Carter atau Piagam Madinah yang dibahas beberapa tahun setelahnya dan menjaadi salah satu produk kenabian terbaik yang pernah ada.   
            Agama Islam merupakan agama yang rahmatan lil’alamin. Di dalamnya terdapat berbagai macam kisah dan peristiwa yang sudah lampau maupun yang akan datang, peristiwa yang akan terjadi dan bahkan belum terjadi sekalipun. Karena Agama Islam menjadi agama yang telah disempurnakan oleh Allah dan telah mendapat legitimasi yang tinggi oleh umat manusia, maka sebagai umat Nabi Muhammad yang memeluk agama Islam sudah seharusnya menjunjung tinggi ajaran yang mulia ini. Apa yang menjadi landasan umat Muslim sedunia sejak dulu sampai sekarang berupa Al-Qur’an dan Al-hadist juga menjadi landasan utama bagi umat Islam dan untuk merencanakan harmoni kehidupan yang ada di dunia maupun di akhirat. Apa yang ada di Al-Qur’an juga harus menjadi landasan utama dalam studi hubungan internasional. Mungkin sampai saat ini hanya beberapa saja para penstudi HI yang kurang menjadikan Al-Qur’an sebgai pedoman dalam kehidupan bernegara dan berpolitik, baik secara individual maupun secaraa kelompok (kehidupan masyarakat). Akan tetapi, tidak menjadi suatu alasan bahwa Islam tidak bisa menerima ilmu kontemporer ini. Merujuk kepada produk Rasullullah SAW berupa Perjanjian Hudaibiyyah dan Medina Carter tidak kalah akurat pembuktiannya jika kita ingin melihat sejarah perdaban Islam yang lampau. Zaman kenabian saja belum ada teknologi ilmu politik sudah dipraktekkan dan dimplementasikan sedemikian rupa, apalagi zaman sekarang yang dimana peran teknologi lebih dominan daripada yang lain, maka sebagai ilmuwan muslim kita juga mengembangkan ilmu ini, meskipun salah satu cabang dari imu kontemporer.
Nilai-Nilai Islam dalam Studi Hubungan Internasional.
           
Dalam hubungan internasional, banyak sekali nilai-nilai yang dapat diambil dan menjadi sebuah rujukan bagi seorang muslim untuk melaksanakannya dengan landasan islami tentunya. Beberapa konsep dalam studi hubungan internasional yang selama ini berasal dari kajian barat dan budaya yang ada di eropa pada hakikatnya juga terdapat dalam Al-Qur’an, sebagai landasan utama seorang muslim. Beberapa buku literasi memang menyebutkan bahwa hubungan interanasional yang selama ini dipelajari berasal dari barat, karena memang pada hakikatnya ilmu hubungan internasional lahir pasca perang dunia dan menjadi bidang studi tersendiri dalam pergolakan negara-negara yang ada setelah perang dunia. Ini membuktikan bahwa hubungan internasional merupakan produk baru dalam sejarah keilmuan manusia.
            Dalam studi hubungan internasional teori realisme, liberalisme, kedaulatan, dependensi, kepentingan negara dan berbagai macam teori-teori kontemporer juga muncul. Oleh karena itu, Islam hadir sebagai ajaran yang universal dan menghadirkan beberapa teori yang menjadikannnya landasan bagi umat muslim, khususnya mereka mempelajari ilmu ini. Dalam Hubungan Internasional dikenal Karamah Insaniyyah yang menjadi tolak ukur sebuah power atau kekuasaan. Selain itu, konsep kerjasama dan kebebasan dibungkus dalam konsep At-Ta’awun Al-Insaniyyah.
            Dalam  hubungan internasional yang mengedepankan “national interest” atau konsep kepentingan negara dalam Islam dibahas dalam bentuk Ummatan Wahidatan, yang Allah telah menegaskannya dalam Qur’an Surah Al-Baqoroh ayat 312. Beberapa konsep dalam ilmu HI seperti toleransi dan umat beragama dalam Islam dinamakan At-Tasamuh. Sedangkan paham pragmatism dikomparatifkan dengan konsep Fadlilah atau konsep kemuliaan diri. Konsep ‘Adalah juga atau konsep Keadilan juga menjadi patokan dalam studi Hubungan Internasional. Sebenarnya masih banyak dalil-dalil dalam Qur’an yang menjadi sumber dalam hubungan internasional yang sudah dibahas dan termaktub dalam Al-Qur’an.    
            Demikian dijelaskan secara singkat studi Islam dalam Hubungan Internasional. Apa yang ada dalam studi Hubungan Internasioal selama ini juga tidak lepas dari para pemikir muslim. Akan tetapi peran pemikir muslim baru beberapa saja dan tidak banyak. Oleh karena itu diharapkan kepada kader-kader bangsa yang selama ini menuntut ilmu hubungan internasional apalagi yang megkaji khusus maslah islam dan perspekifnya di Barat, begitu pula dengan para sarjana HI dari negeri ini yang melanjutkan studinya di luar negeri pun harus berkecimpung dalam hubungan internasional, serta menanamkan nilai-nilai keislaman dalam islam.

---o0o---

Rabu, 24 Juni 2015

Bandung Conference and Beyond: Rethinking of International Order, Identity, Security, and Justice in a Post-Western World.

--Laporan Hasil Seminar--

Bandung Conference and Beyond: Rethinking  of International Order, Identity, Security, and Justice in a Post-Western World”.
Universitas Gajah Mada, 8-9 April 2015, Yogyakarta.
Ditulis oleh: Muhammad Akbar Rahmadi/HI/2


Prolog
“Bandung Conference and Beyond” adalah salah satu agenda yang diadakan oleh Institute of International Studies dan Department of International Relations Universitas Gajah Mada atas kerjasama dengan University of Queensland, Australia. Agenda ini berlangsung selama dua hari dari tanggal 8-9 April 2015. Acara ini dilaksanakan demi memperingati Konferensi Asia-Afrika yang terjadi 60 tahun silam, yaitu pada tahun 1955 di Bandung, Jawa Barat. Acara ini juga dilaksanakan untuk memperingati bahwasanya Dasasila Bandung yang dihasilkan dalam konferensi Asia Afrika 1955 dapat mewujudkan perdamaian dan keamanan antara negara-negara berkembang yang baru merdeka pada saat itu. Insitute of International Studies juga  menghadirkan 50 presenter dari berbagai negara, yang setiap makalah yang diterbitkan berdasarkan dari 9 topik mengenai isu-isu  dalam teori dalam hubungan internasional serta menurut perspektif South-North Asean, yang lebih mengedepankan penerapan teori-teori dalam Hubungan Internasional dalam pandangan negara-negara yang berada di kawasan Asean. Agenda ini juga didukung oleh salah satu media massa, yaitu Harian Kompas, serta kedutaan besar Indonesia untuk India, Bank Central Asia (BCA), perusahaan radio lokal Swaragama FM, Geronimo FM dan P.T Telkom Indonesia.     
Prosedur Acara         
Konferensi dimulai pada pukul 07.30 pagi yang bertempat di Balai Senat Room, Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada pada pukul 08.00, bahkan agak terlambat sampai 08.15 disebabkan peserta dan tamu undangan masih melakukan registrasi di lantai utama. Ketika acara dimulai, sang pembawa acara mulai membuka acara tersebut dan mempersilahkan kepada Rektor Universitas Gadjah Mada untuk memberi sambutan pembuka. Kemudian dilanjutkan setelahnya sambutan dari Menteri Luar Negeri wanita pertama Indonesia, Ibu  Retno LP Marsudi dan pembukaan resmi dari beliau dengan memukul gong yang telah disediakan oleh panitia.
Setelah acara pembukaan dan sambutan dari Ibu Menteri, barulah kemudian acara secara resmi dimulai. Untuk pembicara pertama yang memberi sambutan yaitu Prof. Amitav Acharya, selaku Professsor di School Of International Service, American University. Beliau menjelaskan dari apa yang meng-ilhami penyelenggaraan konferensi ini, serta mengingat kembali perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menjujung tinggi keamanaan dan keadilan dalam hubungan negara-negara yang dijajah ketika itu. Di sela-sela pemaparannya, beliau juga memperlihatkan foto-foto zaman dulu yang mengabadikan konferensi Asia-Afrika sejak 60 tahun yang lalu.
Setelah sambutan dari beliau, agenda selanjutnya yaitu coffe break yag dilangsungkan disamping ruang Balai Senat Room, sehingga memudahkan interaksi satu peserta ke peserta yang lain. Coffe break dan ramah tamah selesai, acara selanjutnya yaitu Diskusi Paripurna, yang dihadiri oleh Professor di School of International Studies, Jawaharlal Nehru University, Prof. A.K. Ramakrishnan, dan Professor di Department of International Relations, Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Mohtar Mas’oed serta dosen senior di School of Political Science and International Studies, University of Queensland, Dr. Andrew Phillips. Diskusi berlangsung dengan lancar dan para tamu undangan yang menghadiri sangat antusias dalam ruangan. Di akhir sesi, para pembicara memberikan termin pertanyaan dan mendapat respon yang sangat positif dari para hadirin, sehingga banyak para hadirin yang melontarkan pertanyaan yang membuat para pembicara menjawab dengan antusias pula.

Pukul 12.30, acara selesai dan akan dilanjutkan setelah dzuhur, yaitu pukul 14.00. Acara berikutnya  makan siang dan ramah tamah yang juga disuguhkan oleh panitia disamping Balai Senat Room. Barulah dari para hadirin ada yang menuju ke masjid dan musholla kampus untuk menunaikan sholat dzuhur. Setelah dzuhur, acara selanjutnya yaitu diskusi panel yang diadakan di ruang panel masing-masing, sesuai dengan tempat yang telah dibagikan oleh panitia. Pantia juga membagi kelompok sesuai dengan apa yang ditulis peserta ketika registrasi pertama kali. Pembicara atau presenter yang hadir ada sekitar lima puluhan orang serta lengkap dengan makalah yang akan dibahas dalam ruangan nantinya. Setiap presenter mengeksplorasikan makalah yang akan dibahasnya, serta setiap presenter diberi waktu sekitar 30-45 menit. Karena masalah yang diprioritaskan dalam seminar kali ini adalah teori hubungan internasional dalam perspektif Asia Tenggara, maka banyak dari presenter yang menjelaskan tentang bagaiaman seharusnya hubungan internasional yang cocok diterapkan di wilayah Selatan dan juga Asia Tenggara, mengingat negara-negara maju yang notabenenya ilmu dan teori hubungan internasional berasl dari negara-negara tersebut.  


Kesimpulan

Dari konferensi ini, kita mengetahui bahwasanya Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan 60 tahun yang lalu telah memberikan sumbangsih yang sangat besar kepada negara-negara Asia dan Afrika. Dan, kita harus memandang Konferensi Asia-Afrika 1955 sebagai tempat di mana segala kepentingan, nilai-nilai, baik budaya, keamanan, dan keadilan dijunjung tinggi serta posisi negara Asia-Afrika yang disuarakan sendiri dapat menjadi simbol partisipasi aktif dalam mewujudkan politik Internasional. Selain itu, kita juga harus memandang konferensi Asia Afrika sebagai tonggak sejarah dalam mewujudkan perdamaian di dunia yang dimulai dari negara-negara Afrika dan Asia sebagai pelopornya.

Konferensi Asia Afrika juga menjadi salah satu konferensi Internasional yang menjadi ikon kemajuan negara Asia dan Afrika, serta dalam mewujdkan perdamaian dunia. Konferensi ini juga memperlihatkan bahwa kita sebagai bnagsa Indonesia yang masyarakatnya terdiri dari berbagai macam kebudayaan dapat melaksanakan acara yang dapat menarik seluruh perhatian dunia. Oleh karena itu, pandangan dalam perspektif penjajah terhadap negara berkembang tidak hanya sebagai negara yang dapat diambil harta kekayaannya saja, melainkan negara yang turut serta dalam mewujudkan perdamian dunia dan keadilan dunia. Indonesia yang menerapkan konsep luar negeri yang bebas aktif sangat mampu dalam mewujudkan perdamaian dunia, sehingga tidak ada alasan bagi bangsa ini untuk tidak ikut serta aktif dalam mewujudkannya.

Oleh karena itu, dalam peringatan Konferensi Asia-Afrika yang ke-60, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Univeritas Queensland Australia dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia serta memberikan pelajaran yang sangat penting kepada bangsa Indonesia, khususnya bagi para peserta untuk tidak melupakan sejarah yang telah diukir oleh bangsa kita.

Di sisi lain, acara ini juga dilaksanakan dengan full english, mengingat acara ini merupakan acara yang berskala Internasional, sehingga turut menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar bagi semua undangan yang hadir.

---o0o---



Hubungan Internasional dalam Perspektif Islam

Hubungan Internasional dalam Perspektif Islam



Pendahuluan

Latar Belakang
Dalam Islam, seluruh pola kehidupan manusia sudah diatur sedemikian rupa dan dijelaskan di dalam Al-Qur'an, serta tercantum di Sunnah Nabi-Nya, Muhammad S.A.W. Ajaran Islam memperlihatkan hukum perimbangan antara yang subut (tetap) dan tatawwur (berkembang). Hukum ibadah wajib/mahdah adalah subut, tidak boleh ada inovasi dan pembaharuan, sedang hukum ibadah sosial atau muamalah kemasyarakatan adalah tatawwur, harus ada inovasi dan pembaharuan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Selain itu, amalan-amalan seorang hamba sudah termaktub dalam Al-Qur'an dan dilengkapi dengan Hadist Nabi, dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi, kesemuanya itu sudah diatur oleh sang Kuasa. Maka, sudah kewajiban bagi kita sebagai hamba untuk mempercayai setiap segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari kuasa-Nya, tidak terkecuai Ilmu pengetahuan.

Berbicara mengenai ilmu pengetahuan, maka setiap hamba wajib mempercayai bahwa setiap ilmu yang ada di dunia ini berasal dari-Nya, dan tidak ada dikotomi dalam ilmu pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan yang ada di dunia, baik sosial, politik, sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan alam, dan semua ilmu lainnya pasti terdapat nilai-nilai dan prinsip keislaman di dalamnya, meskipun sangat sulit untuk ditemukan. Banyak para pakar yang berpendapat bahwa ilmu-ilmu pnegetahuan yang lahir setelah Rasulullah wafat pada 625 H, apalagi ilmu sosial atau ilmu umum, tidak ada sangkut pautnya dengan Islam. Padahal, kebudayaan yang sekarang berkembang dan maju di wilayah eropa dan wilayah barat di terinspirasi oleh para ilmuwan-ilmuwan islam yang dari dulu sudah memberi peranan penting dalam perkembangan sains dan ilmu pengetahuan. 

Kita mengetahui bahwa berkembangnya ilmu matematika dan fisika tidak lepas dari peran al-Khowarizmi dalam konteks pembelajaran matematikanya. Di sisi lain, penerangan dari lampu-lampu jalan raya pada masa keemasan Dinasti Turki Ustmani menginspirasi jalan-jalan raya di kota-kota besar di wilayah Eropa, tak terkecuali Prancis dan London. Oleh karena itu, nuansa keilmuan dan kebudayaan yang ada 
sekarang ini, tidak dapat lepas dari suasana keislaman yang dibuat oleh orang-orang dulu, baik ilmuwan ataupun ulama' ulama' pemimpin islam.
Pada makalah ini, penulis akan menjelaskan korelasi antara ilmu hubungan internasional yang selama ini dipelajari oleh penstudi HI dengan konsep keislaman yang sudah ada sejak dahulu kala. Ilmu Hubungan Internasional yang paradigmanya lahir pasca perang dunia pertama dan lahir di kalangan ilmuwan barat memberikan konsep lain dalam islam, bahwa pada dasarnya konsep yang ada di dalam hubungan internasional sudah lama ada dan dibahas pada konsep Medina Charter atau Shohifatul Madina pada tahun 622 SM. Konsep Piagam Madinah yang ditawarkan oleh Nabi Muhammad kala itu sudah menjadi landasan bernegara Madinah sebelum ada negara lain yang memulainya. Maka, di sini penulis melihat bahwa Hubungan Internasional merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh Nabi Muhammaad SAW dan baru dikenal oleh masyarakat dunia pada sekitar abad pertengahan sampai abad ke-21, serta konsep Ilmu Hubungan Internasional yang termaktub dalam Al-Qur'an.

Pembahasan


Pengertian Ilmu Hubungan Internasional
Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, apakah itu ilmu hubungan internasional? Apakah sama antara konsep yang ditawarkan hubungan internasional yang selama ini dipelajari oleh para penstudi HI dengan konsep hubungan internasional yang sudah ada dalam agama islam?. Menurut pendapat beberapa ahli, hubungan internasional merupakan salah satu cabang dari ilmu politik yang mengurusi sistem perpolitikan antar bangsa, baik berupa ekonomi, perdagangan, hukum, hak-hak asasi manusia, lembaga-lembaga dan organisasi yang berskala internasional. Ada juga yang berpendapat bahwa hubungan internasional merupakan salah satu cabang dari ilmu psikologi yang di mana penstudi HI sebagai akademisi mempelajari suatu bangsa dan perkembangan negara tersebut. Menurut Hans J. Morghentau dalam bukunya “Politik Antar Bangsa” hubungan Internasional salah satu cabang dari ilmu politik dan tidak dapat dipisahkan darinya. Selain itu, menurut Morgenthau setiap tindakan yang dilakukan suatu negara berkenaan dengan negara lain adalah bersifat politik2.

Hans J. Morghentau, Penggagas Buku
"Politik Antar Bangsa"
Sedangkan menurut wikipedia, adalah ilmu yang mempelajari hubungan antarnegara, termasuk peran sejumlah negara, organisasi antar-pemerintah (IGO), organisasi non-pemerintah Internasional (INGO), organisasi non-pemerintah (NGO), dan perusahaan multinasional (MNC). Hubungan Internasional merupakan sebuah bidang akademik dan kebijakan publik dan dapat bersifat positif atau normatif, karena keduanya berusaha menganalisis serta merumuskan kebijakan luar negeri negara-negara tertentu.

Seperti yang kita ketahui, ilmu hubungan internasional yang berkembang saat ini merupakan salah satu induk dari ilmu sosial, mengapa? Karena, ilmu hubungan interasional menggunakan berbagai bidang ilmu seperti ekonomi, sejarah, hukum internasional, filsafat, geografi, kerja sosial, sosiologi, antropologi, kriminologi, psikologi, studi gender, dan ilmu budaya atau kulturologi. Hubungan Internasional mencakup rentang isu yang luas, termasuk globalisasi, kedaulatan negara, keamanan internasional, kelestarian lingkungan, proliferasi nuklir, nasionalisme, pembangunan ekonomi, keuangan global, terorisme, kejahatan terorganisasi, keamanan manusia, intervensionisme asing, dan hak asasi manusia.

Secara historis, ilmu hubungan internasional yang ada di paradigma orang barat yaitu ditandai berdasarkan negara yang berdaulat, dan dimulai Perdamaian Westfalen tahun 1648, yang juga sebuah batu loncatan dalam perkembangan sistem negara modern. Padahal, sejak jauh ribuan tahun lalu, Piagam Madinah yang dicanangkan oleh Rasulullah SAW merupakan salah satu undang-undang dan peraturan tertulis pertama yang ada di dunia.
Maka, dari sini kita dapat mengetahui bahwasanya ilmu hubungan internasional yang juga berasal dari kalangan ilmuwan dan peneliti orang barat sudah dibahas sejak jutaan tahun lalu, bahkan sebelum ilmuwan-ilmuwan barat itu lahir. Konsepesi ilmu hubungan internasional yang mempelajari hubungan-hubungan antar negara, baik dari segi militer, ekonomi, politik dan lain-lain sudah lama dibahas dan dijalankan oleh Nabi dan para sahabat sejak beberapa ratus tahun lalu.

Jika kita melihat ilmu hubungan internasional sebagai salah satu cabang ilmu politik, sebenarnya, konsep perebutan kekuasaan sebagai salah satu materi inti dalam ilmu politik juga sudah dijelaskan konsep Islam itu sendiri. Berbeda dengan terminologi yang telah dikenalkan dalam keputusan politik. Al-Qur‟an memperkenalkan istilah-istilah yang relevan dengan kekuasaan politik, satu sama lainnya berbeda. Ada yang namanya “Sulthan” yang artinya “kemampuan fisik untuk melaksanakan pengaruh dan atau paksaan terhadap orang lain atau masyarakat, ada juga “Al-Mulk”, kekuasaan sebagai hak obyek hak(kepemilikan), dan “Al-Hukm”, yang artinya sebagai penyelenggaraan ketertiban dalam kehidupan manusia dengan pendayagunaan aturan-aturan atau norma hukum, baik yang berseumber dari Allah maupun Nabi-Nya ataupun hasil ijtihad manusia, aturan, norma hukum, dan pembuatan hukum.

Al-Qur'an memerintahkan agar hukum-hukum syari'at yang terkandung didalamnya ditegakkan dalam kehidupan manusia sebagai tata tertib individu dan sosial. Perintah tersebut berimplikasi pada pemberian wewenang kepada manusia untuk menata kehidupannya dengan menerapkan hukum Allah tersebut. Dan dari sini diperoleh pengertian bahwa hakikat kekuasaan politik adalah kewenangan (otoritas) untuk menyelenggarakan tertib masyarakat berdasarkan hukum Allah, kekuasaan tersebut bersumber dari Allah dan dilimpahkan melalui firman-Nya (Al-Qur'an) kepada orang-orang yang beriman. Penyelenggaraan yang tertib masyarakat yang berdasarkan hukum kepada Allah itulah yang merupakan perwujudan dari kekuasaan politik tersebut, atau dapat juga dapat diungkapkan bahwa wujud kekuasaan politik tersebut adalah sebuah sistem politik yang diselenggarakan berdasarkan dan menurut hukum Allah yang terkandung dalam Al-Qur'an.

Beberapa Prinsip Hubungan Internasional yang dapat dipahami dalam al-Quran dalam Islam.

Di antara ayat al-Quran yang relevan bagian pembahasan ini adalah: Q.S. al-Hujurat, 49: 13; yang artinya, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. Kandungan ayat 13 di atas mengemukakan bahwa manusia hanya terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan. Penyatuan kedua jenis manusia tersebut, menjadikan mereka banyak dan kemudian mereka hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan tujuan agar mereka saling kenal mengenal untuk saling membantu dan saling membutuhkan demi tercapainya kehidupan mulia dan kemuliaan.

Kemuliaan manusia di sisi Allah terletak pada derajat ketakwaan kepada-Nya. Jika kandungan ayat tersebut pertautkan dengan ayat-ayat sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa ayat 13 ) di atas relevan dengan hubungan manusia (termasuk orang yang beriman) dengan manusia lainnya. Dengan kata lain, kandungan ayat ini mengemukakan prinsip dasar hubungan sesama manusia. Hal ini dipahami dari seruan yang ditujukan kepada al-nas (seluruh manusia). Sedang kandungan 4 ayat sebelumnya yaitu Q.S. al-Hujurat, 49: 9-12 mengemukakan petunjuk pergaulan antara sesama mu'min. Dengan demikian ayat 13 di atas mengemukakan bagaimana bangunan interaksi antara manusia dengan manusia lainnya. Dari konteks pemahaman yang demikian, maka ayat di atas relevan dengan studi hubungan internasional.5 Ada beberapa kata. kunci yang relevan dengan pembahasan tersebut yaitu: 2 term.

Term pertama secara etimologis mengandung makna tampaknya sesuatu atau jinak dan lupa serta bergoncang. Makna pertama berakar kata dari huruf hamzah, nun dan sin. Sedang makna kedua dan ketiga, berakar kata dari huruf nun, sin dan ya dan huruf nun, wa dan sin. Menurut Muin dari makna tampaknya sesuatu dan jinak menunjuk dua aspek pada manusia yaitu aspek fisik lahiriahnya dan aspek kejiwaannya. Aspek kedua ini relevan dengan sifat keramahan, kesensasian dan pengetahuan, seperti ditunjukkan pada salah satu bentuk derivasi dari akar kata hamza, nun dan sin, yaitu anasa-yu’nisu dan anisa-ya'nisu. Dari konotasi makna kejiwaan tersebut dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk sosial dan mahluk kultural. Dikatakan sebagai mahluk sosial karena manusia memiliki kecenderungan alami untuk senantiasa berkumpul bersama. Sedang dikatakan sebagai mahluk kultural karena manusia memiliki kemampuan dan potensi untuk memiliki ilmu pengetahuan dan menciptakan peradaban. Konotasi makhluk sosial relevan dengan ayat 13 di atas sedangkan konotasi mahluk kultural relevan dengan Q.S al-Nahl, 16: 78.

Kata An-Nas ditemukan di dalam al-Quran sebanyak 240 kali. Menurut beberapa pakar penggunaan kata tersebut di dalam al-Quran menunjuk kepada manusia secara keseluruhan (mutlak). Pandangan ini, dapat dibenarkan mengingat dalam ayat 13 di atas, term An-Nas diikuti dengan term yang menunjukkan jenis manusia yaitu laki-laki (dzakar) dan perempuan (untsaa). Artinya baik laki-laki maupun perempuan adalah An-Nas. Dari sisi ini, dapat ditegaskan bahwa semua manusia apakah itu laki-laki, perempuan, yang kemudian keduanya menjadi bangsa dan suku yang pluralistik- diikat oleh satu ikatan yang sama yaitu ikatan kemanusiaan. Oleh karena itu laki-laki, perempuan, bangsa itu-bangsa ini, suku itu-suku ini sama derajatnya dari sisi kemanusiaannya. Term Syu'uban wa qobaaila, kedua term ini hanya sekali ditemukan di dalam al-Quran. Term syu'ub, secara etimologis mengandung dua makna pokok yang berlawanan yaitu bercerai-berai dan berkumpul. Sedang term qaba'il mengandung makna pokok sesuatu berhadapan dengan sesuatu yang lain. Secara leksikologis term pertama menunjuk makna kelompok manusia yang berkumpul berdasarkan ikatan keturunan, bahasa dan aturan-aturan yang disepakati bersama. Al-Ashfahani berkata bahwa kata ini menunjuk makna, manusia. Yang berkumpul dalam satu kehidupan. Secara leksikologis term kedua menunjuk makna yang bercabang, seperti sekelompok manusia yang diikat oleh suatu kebutuhan hidup, hajat dan keadaan yang sama; kelompok manusia yang bernasab satu ayah dan moyang; jenis hewan dan tumbuhan: tambalan pakaian. Ibnu Mansyur berkata makna qabail adalah anggota bangsa yang dihubungkan dengan kebutuhan dan hajat yang sama. Sedang al-Ashfahani mengartikannya dengan sekelompok manusia yang dikumpulkan, sebagian dari mereka menerima sebagian lainnya.

Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa dalam pandangan al-Quran, hubungan masyarakat manusia baik yang berskala kecil maupun skala internasional (masyarakat dunia atau masyarakat internasional) mesti dibangun atas dasar dan prinsip bahwa semua manusia itu sama dan tidak ada perbedaannya dari sisi kemanusiannya. Inilah yang dimaksudkan dengan pesan Nabi saw. yang disampaikan di Haji Wadha‟. Yaitu, Nabi saw. berpesan: "Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Tuhanmu Esa, ayahmu satu, tidak ada kelebihan orang Arab atas bukan Arab, tidak juga bukan Arab atas orang Arab atau orang yang berkulit hitam dengan yang berkulit merah (putih), tidak juga sebaliknya kecuali dengan takwa. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa." Pesan Nabi SAW dalam hadis tersebut sejalan dengan kandungan ayat 13 surah al-Hujurat di atas.

Menurut Ahmad Mujahid dalam tulisannya, “Hubungan Internasional dalam Al-Qur'an, prinsip dasar ini kemudian berimplikasi pada bentuk pemikiran universal kemanusiaan yang tidak disekat dengan teritorial-geografis (trans teritorial-geografis) seperti yang dikenal dalam bentuk pemikiran negara dan politik nasionalisme". Inilah mungkin salah satu alasan mengapa al-Quran tidak menggunakan term daulah (negara) dalam menunjuk kelompok sosial manusia, sebagai penjabaran lebih jauh dari prinsip di atas, tetapi menggunakan term lainnya, seperti term syu'ub dan qaba'il serta berbagai term lainnya. Hal ini menarik untuk di analisis. Tapi, satu alasan (yang mungkin dapat dipertimbangkan dan didiskusikan lebih jauh), yaitu konsep syu’ub lebih luas dibanding dengan konsep kenegaraan. Dikatakan demikian karena konsep syu'ub tersebut tidak disekat dengan teritorial-geografis. Demikian pula dengan kesukuan (qabail). Selain itu, dari sudut sosiologis perekat vang melekat pada istilah syu'ub dan qaba'il lebih kuat dibanding dengan perekat kenegaraan.

Perjanjian Hudaibiyyah dan Piagam Madinah sebagai Tonggak Sejarah Kehidupan Bangsa Bernegara. 



Berkembangnya Islam sampai ke seluruh penjuru dunia, dan tetap bertahan sampai zaman sekarang ini, salah satu faktornya adalah kecerdasan sang pembawa risalah tersebut, yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah tokoh dengan karakter yang paling hebat. Bahkan Michael J Hart yang non muslim pun menempatkan beliau di urutan teratas dalam daftar 10 orang terhebat dalam buku karyanya. Salah satu bukti kehebatan Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa terjadinya Perjanjian Hudaibiyah, atau Shulhul Hudaibiyah.

Sedangkan isi dari Perjanjian Hudaibiyah tersebut menurut riwayat, intinya adalah:
1. Gencatan senjata antara Mekah dengan Madinah selama 10 tahun.
2. Bagi penduduk Mekah yang menyeberang ke Madinah tanpa izin walinya harus dikembalikan ke Mekah.
3. Bagi penduduk Madinah yang menyeberang ke Mekah tidak boleh kembali ke Madinah.
4. Bagi penduduk selain Mekah dan Madinah, dibebaskan memilih untuk berpihak ke Mekah atau Madinah.
5. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya harus meninggalkan Mekah.
6. Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya dipersilahkan kembali lagi ke Mekah setahun setelah perjanjian itu, dan akan dipersilahkan tinggal selama 3 hari dengan syarat hanya membawa pedang dalam sarungnya (maksudnya membawa pedang hanya untuk berjaga- jaga, bukan digunakan untuk menyerang). Dalam masa 3 hari itu kaum Quraisy (Mekah) akan menyingkir keluar dari Mekah.

Peraturan yang tertulis ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu, sebelum lahirnya Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dibuat oleh United Nation pada tahun 1920. Bahkan perjanjian Hubaibiyyah menurut banyak ahli politik kenegaraan sebagai tonggak dasar kehidupan bangsa dan bernegara. Ini membuktikan bahwa kehidupan bernegara sebelum adanya ilmu hubungan internasional dan Persatuan Bangsa-bangsa pada tahun 1920, sudah lama diselenggarakan oleh Nabi.
Ketika perjanjian ini diselenggarakan, Nabi Muhammad SAW mempunyai pandangan yang orang lain tidak mampu menangkapnya. Dan hal ini tidak pernah beliau beritahukan kepada sahabat- sahabat beliau, bahkan kepada Abu Bakar r.a dan Umar r.a. Ini beliau lakukan demi menjaga rahasia strategi beliau. Maka beliau membiarkan para sahabat dan Kaum Muslimin dalam keadaan seperti itu. Ternyata, setelah kemenangan Islam terjadi, kita bisa mengambil pelajaran bahwa paling tidak ada 2 hal penting yang beliau ambil dari Perjanjian Hudaibiyah tersebut.

Perjanjian ini ditandatangani oleh Kaum Quraisy dengan Suhail bin Amr sebagai wakilnya. Suku Quraisy adalah suku paling terhormat di daerah Arab, sehingga siapapun akan menghormati apa yang mereka tentukan. Dengan penandatanganan perjanjian ini, maka Madinah diakui sebagai suatu daerah yang mempunyai otoritas sendiri. Jika Suku Quraisy telah mengakui, maka suku- suku lain pun pasti mengakuinya. Dengan perjanjian ini, maka pihak Quraisy (Mekah) memberi kekuasaan kepada Madinah untuk menghukum mereka jika menyalahi perjanjian tersebut. Ternyata sangat hebat konsekuensi dari perjanjian ini. Kaum Muslimin Madinah yang tadinya dianggap bukan apa-apa, sejak perjanjian itu dibuat bisa menghukum suku yang paling terhormat di Arab. Perlu diketahui bahwa Islam melarang memerangi suatu kaum atau seseorang tanpa orang atau kaum tersebut melakukan kesalahan. Ini bisa dilihat dalam Al Qur‟an Surat Al Hajj ayat 39- 40.

Maka dengan keuntungan yang didapat dari Perjanjian Hudaibiyah itu, Nabi Muhammad berusaha mengukuhkan status Madinah dengan cara mengutus berbagai utusan kepada pemimpin negara- negara tetangga, diantaranya Mesir, Persia, Romawi, Habasyah (Ethiopia), dan lain- lain. Selain itu beliau juga menyebar pendakwah untuk menyebarkan Agama Islam. Kemudian dengan dijaminnya Quraisy tidak akan memusuhi Kaum Muslimin, maka Kaum Muslimin bisa dengan leluasa menghukum Kaum Yahudi Khaibar yang telah mendalangi penyerangan terhadap Kaum Muslim Madinah dalam Perang Ahzab/ Khandaq. Ini yang beliau lakukan sehingga Kaum Yahudi pun di kemudian hari tidak berani lagi mengganggu Madinah.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW tahu betul karakter orang- orang Mekah. Beliau yakin bahwa mereka akan melanggar perjanjian itu sebelum masa berlakunya selesai. Dan itu benar- benar terjadi. Maka ketika Bani Bakr yang menyatakan berpihak kepada Quraisy dan didukung beberapa tokoh Quraisy diantaranya Ikrima bin Abu Jahal menyerang Bani Khuza‟ah yang menyatakan memihak Madinah, Nabi Muhammad segera menyiapkan rencana untuk menghukum Kaum Quraisy. Dan pada akhirnya, terjadilah penaklukan Mekah tanpa perlawanan berarti dari penduduk Mekah. Mekkah yang pada saat itu memenangkan konflik yang berkepanjangan dan Mekkah memulai babak baru dalam perkembangan Islam.

Lima belas abad yang lalu sebelum banyak masyarakat dunia mengenal konsitusi tertulis, bersamaan tahun pertama Hijrah pada tahun 622 M, Rasulullah Muhammad telah membuat “Piagam Madinah” yang dikenal konstitusi tertulis pertama di dunia dan sangat luar biasa.
Penyebutan konstitusi tertulis pertama di dunia ini bukan tanpa dasar. Sebab konstitusi Aristoteles Athena yang ditulis pada Papyrus, ditemukan oleh seorang misionaris Amerika di Mesir baru pada tahun 1890 dan diterbitkan pada tahun 1891, itupun tidak dianggap sebuah konstitusi. Tulisan-tulisan hukum lainnya pada perilaku masyarakat kuno telah ditemukan, tetapi tidak dapat digambarkan sebagai konstitusi.

Sementara itu, sejarah konstitusi Amerika Serikat baru disusun beberapa tahun setelah pernyataan kemerdekaan Amerika Serikat (AS) yang ditanda tangani pada tahun 1776. Itupun mengalami banyak perubahan (amandemen) “Piagam Madinah” (Madinah Charter) adalah konstitusi tertulis pertama mendahului Magna Carta, yang berarti Piagam Besar, disepakati di Runnymede, Surrey pada tahun 1215. Landasan bagi konstitusi Inggris ini pula yang menjadi rujukan Amerika membuat konstitusi yang selama ini dianggap oleh Barat sebagai “dokumen penting dari dunia Barat” dan menjadi rujukan/model banyak negara di dunia. Kehadiran “Piagam Madinah” nyaris 6 abad mendahului Magna Charta, dan hampir 12 abad mendahului Konstitusi Amerika Serikat ataupun Prancis.9
Kandungan “Piagam Madinah” terdiri daripada 47 pasal, 23 pasal membicarakan tentang hubungan antara umat Islam yaitu; antara Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin.

ISI PIAGAM

Berikut ini adalah poin-poin piagam secara ringkas:
A. Poin-Poin yang berkaitan dengan Kaum Muslimin.

1. Kaum mukminin yang berasal dari Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang bergabung dan berjuang bersama mereka adalah satu umat, yang lain tidak.
2. Kaum mukminin yang berasal dari Muhajirin, bani Sa'idah, Bani 'Auf, Bani al Harits, Bani Jusyam, Bani Najjar, Bani Amr bin 'Auf, Bani an Nabit dan al-Aus boleh tetap berada dalam kebiasaan mereka yaitu tolong-menolong dalam membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara mukminin.
3. Sesungguhnya kaum mukminin tidak boleh membiarkan orang yang menanggung beban berat karena memiliki keluarga besar atau utang diantara mereka, membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diat.
4. Orang-orang mukmin yang bertaqwa harus menentang orang yang zalim diantara mereka. Kekuatan mereka bersatu dalam menentang yang zhalim, meskipun orang yang zhalim adalah anak dari salah seorang diantara mereka.
5. Jaminan Allah itu satu. Allah akan memberikan jaminan kepada kaum muslimin yang paling rendah. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu diantara mereka, tidak dengan yang lain.
6. Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kaum mukminin berhak mendapatkan pertolongan dan santunan selama kaum Yahudi ini tidak menzhalimi kaum muslimin dan tidak bergabung dengan musuh dalam memerangi kaum muslimin

B. Poin-poin yang berkaitan dengan Kaum Musyrik

Kaum musyrik Madinah tidak boleh melindungi harta atau jiwa kaum kafir Quraisy (Makkah) dan juga tidak boleh menghalangi kaum muslimin darinya.

C. Poin-poin yang berkaitan Dengan Yahudi.
1. Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.
2. Kaum Yahudi dari Bani 'Auf adalah satu umat dengan mukminin. Kaum Yahudi berhak atas agama, budak-budak dan jiwa-jiwa mereka. Ketentuan ini juga berlaku bagi kaum Yahudi yang lain yang berasal dari bani Najjar, bani Harits, Bani Sa'idah, Bani Jusyam, Bani al Aus, Bani dan Bani Tsa‟labah. Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi).
3. Tidak ada seorang Yahudi pun yang dibenarkan ikut berperang, kecuali dengan izin Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
4. Kaum Yahudi berkewajiban menanggung biaya perang mereka dan kaum muslimin juga berkewajiban menanggung biaya perang mereka. Kaum muslimin dan Yahudi harus saling membantu dalam menghadapi orang yang memusuhi pendukung piagam ini, saling memberi nasehat serta membela pihak yang terzhalimi.

D. Poin-poin yang berkaitan dengan ketentuan umum:
1. Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya haram (suci) bagi warga pendukung piagam ini. Dan sesungguhnya orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dan tidak khianat. Jaminan tidak boleh diberikan kecuali dengan seizin pendukung piagam ini.
2. Bila terjadi suatu persitiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, maka penyelesaiannya menurut Allah Azza wa Jalla, dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
3. Kaum kafir Quraisy (Mekkah) dan juga pendukung mereka tidak boleh diberikan jaminan keselamatan.
4. Para pendukung piagam harus saling membantu dalam menghadapi musuh yang menyerang kota Yatsrib.
5. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah juga aman, kecuali orang yang zhalim dan khianat. Dan Allah Azza wa Jalla adalah penjamin bagi orang yang baik dan bertakwa juga Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dari beberapa poin-poin piagam madinah tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa aturan-aturan yang dibuat oleh Nabi Muhammad dan para pembesar Madinah kala itu merupakan salah satu kejeniusan nabi dalam ketatanegaraan, serta dalam mengambil kebijakan politik ala nabi sendiri. Nabi Muhammad sangat mahir dalam pembuatan keputusan serta pengambilan kebijakan. Pelajaran yang dapat kita ambil dari Piagam Madinah tersebut yaitu, Piagam ini merupakan peraturan pertama yang ditulis di dunia. Selain itu Dalam piagam ini terdapat landasan perundang-undangan, misalnya :
a. Pembentukan umat berdasarkan aqidah dan agama sehingga mencakup seluruh kaum muslimin dimanapun berada.
b. Pembentukan umat atau jama‟ah berdasarkan tempat tinggal, sehingga mencakup muslim dan non muslim yang tinggal disana.
c. Adanya persamaan dalam pergaulan secara umum.
d. Larangan melindungi pelaku kriminal.
e. Larangan bagi kaum Yahudi untuk ikut berperang kecuali dengan izin Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
f. Larangan perbuatan zhalim pada harta, kehormatan dan lain sebagainya.
g. Larangan melakukan perjanjian damai secara pribadi dengan musuh.
h. Larangan melindungi pihak musuh.
i. Keharusan ikut andil dalam pembiayaan yang diperlukan dalam rangka membela negara.
j. Keharusan membayar diyat dari yang melakukan pembunuhan.
k. Tebusan tawanan.
l. Melestarikan kebiasaan yang baik.

Penutup

Kesimpulan

Dari apa yang dijelaskan diatas tadi, penulis berharap bahwa apa yang dipelajari dalam studi ilmu Hubungan Internasional tidak dapat lepas dari ilmu pengetahuan agama islam, yang juga merupakan sejarah-sejarah kenabian Nabi Muhammad. Selain itu, secara historis, hubungan internasional yang lahir pasca perang dunia juga menjadi bahan studi para ilmuwan barat untuk menganalisis hubungan suatu negara dengan negara lain, sehingga banyak dari penstudi hubungan internasional lahir dari kawasan negara-negara yang berkecimpung dalam perang dunia kala itu, dan peranan ilmuwan muslim sangat transparan. Hubungan Internasional yang menjadi mata kuliah pada abad ini di berbagai perguruan tinggi di berbagai universitas di dunia menjadi salah satu euphoria tersendiri bagi setiap penstudinya, karena para penstudi HI itu sendiri mempelajari hubungan negara-negara dari segi apapun, agar tidak terjadi perang dunia kembali, sebagaimana yang terjadi pada tahun 1914 dan 1940.

Hubungan internasional telah menjadi salah satu euphoria tersendiri dalam hidup Habluminannas atau hubungan antar manusia di zaman modern ini, dulunya keberadaan hubungan internasional hanya terbatas dalam lingkup antara negara dengan negara atau pemerintah negara satu dengan negara yang lain. Seiring dengan berkembangnya zaman maka subyek hubungan internasional telah berkembang dan tentunya cakupannya menjadi luas yaitu salah satunya menjadi hubungan individu satu dan individu yang lain di negara yang berbeda. Al-Qur‟an juga memandang bahwa kehidupan yang baik itu merupakan kehidupan yang sangat menjunjung tinggi kesejahteraan dan keselamatan bagi setiap warga negara pada suatu bangsa, sehingga terciptalah perdamaian. Mengutip pembukaan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa “…Memajukan hubungan persahabatan antar bangsa-bangsa berdasarkan penghargaan atas prinsip kesamaan hak dan hak-hak bangsa untuk menentukan nasib sendiri, dan mengambil tindakan-tindakan lain yang tepat untuk memperteguh perdamaian dunia…”10, konsep perdamaian juga sudah dijelaskan dalam islam sejak Rasulullullah menetapkan Piagam Madinah pada tahun 622 SM.

Semoga apa yang dibahas oleh penulis pada makalah ini bermanfaat bagi kita semua semua. Maka, dimulai dari bangku kuliah Universitas Darussalam, penulis berharap lulusan Universitas Darussalam Gontor khususnya untuk program Studi Hubungan Internasional dapat mengembalikan kembali peran Islam yang sesungguhnya, baik dalam hubungan antar sesama dalam wujud sosialisasi masyarakat, dan juga hubungan antar negara.

Daftar Pustaka
1. Morgenthau, J. Hans, Politic Among Nations, The Struggle for Power and Peace, diterjemahkan oleh S. Maimoern, A. M., Fatwan, Cecep Sudrajat dengan judul Politik Antar Bangsa, edisi revisi, Jakarta Pustaka Obor, 2010
2. Al-Umariy, DR Akram Dhiya‟, dalam as Siraatun Nabawiyah as Shahihah dan DR Mahdi Rizqullah Ahmad dalam as Siratun Nabawiyah Fi Dhauil Mashadiril Ashliyyah, disalin oleh Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah, Surakarta.
3. Salim, Abdul Mu‟in, Fiqh Siyasah, Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Qur’an, cetakan pertama, PT. Raja Grafindo Persada, 1994
4. http://ahmadharakan.com/hubungan-internasional-dari-perspektif-alquran/,diakses April 2015.
5. https://www.islampos.com/perjanjian-hudaibiyah-bukti-kejeniusan-politik-nabi-99285/, diakses 21 Mei 2015.
6. http://www.uin-alauddin.ac.id/download-3.%20Hub.%20Internasional-Mujahid.pdf, ditulis oleh Ahmad Mujahid, hal: 231, diakses pada 21 mei 2015.
7. http://www.hidayatullah.com/spesial/ragam/read/2014/11/15/33214/piagam-madinah-konstitusi-tertulis-pertama-di-dunia-1.html
---o0o---

Pengalaman Magang di Kementerian Luar Negeri

1.1 Foto ketika mengawal pelaksanaan acara Focus Group Discussion dengan Kemenlu mengenai Prospek Perdamaian di Afghanistan. Tangerang, ...